BAB IV
EKSPLOITASI EKOSISTEM DAN DAMPAKNYA
Standar Kompetensi
: Memahami
komponen ekosistem serta peranan manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan
dan AMDAL
Kompetensi Dasar :
Menjelaskan
konsep keseimbangan lingkungan
A.
Eksploitasi Ekosistem
Kita pernah
membahas kerusakan lingkungan karena asa
mata rantai jaring makanan dalam ekosistem yang terputus. Dalam masa pembanguan
mau-tidak mau lahan-lahan tertentu seperti sawah, dan rawa-rawa dibangun menjadi
daerah pemukiman, atau pabrik-pabrik yang lebih bermanfaat, tetapi secara tidak
langsung terjadi gangguan alam. Banyak hewan-hewan rawa seperti burung dan ikan
akan musnah. Demikian juga pengolahan tanah pertanian yang kurang baik akan
menyebabkan erosi, dan kekurangan zat hara. Tanah tersebut akan mnejadi kritis.
Salah satu ciri tanah kritis ialah banyak ditumbuhi alang-alang dan tidak
subur. Ada lagi perlakuan yang menyebabkan keseimbangan alam terganggu yaitu
dapat terjadi di daerah sabana. Apabila di padang rumput terlalu banyak ternak
yang makanrumput padang rumput akan menjadi gundul dan akan terjadi erosi, dan
tanahnya akan menjadi sangat gersang. Di Afrika proses itu menyebabkan terjadinya perluasan gurun pasir.
Yang lainnya, misalnya penggundulan hutan, pencemaran organik maupun bahan-bahan
industri.
Dibandingkan
komoponen biotik lainnya, manusia merupakan komonen biotik yang mempunyai
pengaruh terkuat di biosfer bumi ini. Dengan kemampuannya untuk mengembangkan
ilmu dan teknologi, manusia mempunyai pengaruh yang amat besar, baik pengaruh
yang memusnahkan ekosistem maupun pengaruh yang sifatnya meningkatkan,
melipatkan dan mendistribusikan komponen biotik lainnya.
Kemampuan
manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan, kemampuan mengubah lingkungan sesuai dengan yang diinginkan,
menyebabkan populasi manusia meningkat
sangat cepat. Akibatnya keseimbangan lingkungan
mulai goyah. Hal ini semakin diperparah oleh berbagai sikap manusia yang
cenderung merusak lingkungan seperti
membakar hutan, memberantas hama dengan berbagai bahan kimia dan mengubah berbagai ekosistem
buatan seperti yang dinginkan manusia.
Pembabatan
dan pembakaran hutan menyebabkan dampak yang tidak sedikit. Hewan buas di hutan
yang lingkungannya rusak bermigrasi ke desa-desa,memangsa hewan ternak atau
bahkan manusia. Gajah, babi hutan, dan herbivora lainnya susah hidup dihutan
yang rusak, maka hewan-hewan ini bermigrasi ke perkampungan penduduk sekitar.
Serangga-serangga
hutan hidup tenang dan damai tidak mengganggu kehidupan manusia. Pertumbuhan
populasinya dikontrol oleh predator dan parasitoidnya, sehingga tidak pernah
menimbulkan goncangan pada ekosistem
hutan. Karena lingkungan terusik
manusia, maka mereka bermigrasi ke daerah pertanian dan menyerang tanaman
budidaya. Untuk mengatasi serangan
serangga, manusia tak mampu menggunakan
cara-cara tradisional, dan terpaksa menggunakan bahan kimia (insektisida). Penggunaan
bahan kimia tidak hanya sekedar memberantas hama, tetapi juga predator dan
parasitoid yang hidup di tubuh serangga. Bila ada seranga yang tidak mati,maka
akan mampu berkembang biak dengan aman tanpa ganguan predatornya. Pada suatu
saat populasinya akan meningkat pesat
dan mampu menyebabkan terjadinya wabah serangan serangga lagi.
Dengan
perkembangan tehnologi yang begitu pesat dan terus berlanjut serta meningkatnya
urbanisasi yang diakibatkan oleh pembangunan yang dilakukan oleh negara-negara
berkembang dewasa ini. Kebutuhan terhadap perlindungan dan pemeliharaan
lingkungan hidup yang sehat dan aman perlu mendapat perhatian yang makin besar.
Sehubungan dengan itu maka
pemanfaatan sumkebr daya alam secara bijaksana,peran manusia dalam
pengolahan lingkungan itu eprlu
ditingkatkan. Di samping itu konsep
pembangunan berwawasan lingkungan perlu
terus diperkenalkan dan diterapkan pada semua lapisan masyarakat.
Pembangunan
industri diharapkan dapat meningkatkan kesejateraan bagi masyarakat. Namun bila
dalam perumusan kebijakasanaan pembangunan industri tidak memasukkan
unsur-unsur pertimbangan yang berorientasi padalingkungan, maka tiga unsur
pokok dalam ekosistem, yaitu : udara, air dan tanah akan mengalami penurunan
kualitas yang substansial sebagai akibat pencemaran oleh bahan sisa buangan
atau limbah.
Dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menyatakan bahwa pembangunan
industri adalah bagian dari pembangunan nasional jangka panjang yang diharapkan
dapat menghasilkan perekonomian yang berdasarkan industri yang kuat dan
ditopang oleh pertanian yang tangguh. Secara keseluruhan pertumbuhan industri
yang dicapai rata-rata pertahun sebesar 12,98 % (menurut Data Statistik
Ekonomi 2006). Dalam situasi yang menunjukkan pertumbuhan yang nyata dari
kegiatan industri, dapat dimengerti kalau tekanan terhadap lingkungan menjadi
semakin besar.
Kegiatan
industri yang makin berkembang akan menimbulkan jumlah dan macam limbah
industri yang akan dibuang ke lingkungan menjadi masalah yang perlu mendapat
perhatian yangserius. Masalah yang ditimbulkan oleh pencermaran limbah industri
menjadi makin kompleks. Penanggulanannya yang efektif memerlukan sistem
manajemen atau pengelolaan limbah industri yang tepat. Pertanyaan yang
memasalahkan tentang zat-zat pencemar apa yang harus dipisahkan dan sampai
seberapa jauh pemisahannya harus dilakukan untuk melindungi lingkungan, perlu
dijawab khusus untuk setiap kasus pencemaran atau dampak dari eksploitasi
ekosistem tersebut. Pemecahannya tidak sederhana,karena diperlukan analisis
kebutuhan dan kondisi setempat yang disertai dengan langkah penerapan ilmu
pengetahuan dan tehnologi, penetapan keputusan tehnis yang berdasarkan
pengalaman yang telah diperoleh dan pertimbangan untuk memenuhi peraturan yang
bersifat lokal atau nasional.
B.
Dampak Eksploitasi Ekosistem
Ada dua
dampak negatif yang pasti terjadi terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam
(komponen ekosistem) yaitu: 1). Polusi
dan kerusakan lingkungan, 2). Perubahan lingkungan
dengan berbagai dampaknya. Polusi dan kerusakan lingkungan telah kita bahas pada tingkat II. Berikut ini
akan disampaikan dampak eksploitasi sumber daya alam yang lebih spesifik.
1. Limbah.
Sisa
buangan atau limbah industri sebagai hasil samping dari eksplotasi ekosistem
dapat berupa gas, debu, cairan, atau padatan. Sisa buangan cair yang
dikeluarkan oleh proses-proses dalam industri sering disebut sebagai air
limbah industri. Limbah cair industri ini berbeda-beda dalam jumlah maupun
kekuatan pencemaranya, sesuai dengan satuan operasi atau proses yang merupakan
sumbernya.
Pembuangan
air limbah industri biasanya dilakukan ke lingkungan perairan, namun bila air
penerima limbah dilampui daya tampung dan daya pemurniannya, dapat berakibat
timbulnya berbagai masalah pencemaran lingkungan. Limbah sebenarnya tidak hanya
dari industri tetapi juga dari rumah tangga, pelayanan umum ( seperti : rumah
sakit, perkantoran, pertokoan, dan sebagainya), dari aktifitas pertanian,
transportasi dan lain-lain.
Limbah
limbah ini juga dapat menimbulkan pencemaran di udara, tanah dan pada perairan.
Pencemaran dari limbah permukiman maupun dari lahan pertanian di Indonesia
cukup potensial. Tidak kalah pentingnya potensinya dibanding pencemaran dari
industri. Pencemaran pada prinsipnya dapat diartikan sebagai penambahan atau
masuknya zat bahan atau energi ke lingkungan dalam jumlah sedemikian, sehingga
dapat menyebabkan terjadinya kemunduran atau bahaya bagi kesehatan manusia,
terganggunya kehidupan, terganggunya ekosistem dan rusaknya sumberdaya dalam
suatu ekosistem.
Berdasarkan
hasi penelitian terhadap DAS (Daerah Aliran Sungai ) di pulau Jawa sejak
PELITA III dan IV, tampak adanya penurunan kualitas air dari tahun-ke tahun
sebagai akibat terbebannya sungai oleh berbagai limbah terutama limbah rumah
tangga dan industri. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa beberapa DAS di pulau
Jawa seperti DAS Ciliwung, Cisadane, Bengawan Solo, Brantas, Citanduy, Citarum,
Kami Garang telah tercemari oleh lmbah domestik yang ditandai tingginya
kandungan N, P, BOD dan bakteri Coli,sp oleh sungai dan rendahnya
kandungan DO tertama di bagian hilir sungai. Tidak hanya oleh limbah kimiawi
tetapi juga limbah fisik berupa substansi yang tersuspensi semisal endapan
lumpur dan sampah polimer. Hal tersebut diatas menyebabkan semakin merosotnya
mutu air pada perairan bebas di Indonesia dan khususnya Pulau Jawa sebagai
akibat penggundulan hutan dan penggunaan tataguna lahan yang tidak berimbang
terhadap lingkungan. Penggunaan tata guna lahan yang tidak proporsional
terhadap luas resapan juga mengakibatkan limpasan dalam jumlah yang besar dan
pada akhirnya daerah hilir akan menerima akibat dari rusaknya lingkungan daerah
hulu. Dampak pencemaran atau eksploitasi ekosistem baik darat atau ekosistem
air tawar tidak hanya menurunkan kualitas air dan perairan di daratan saja,
tetapi juga menimpulkan dampak berkelanjutan hingga ke pesisir dan lautan,
termasuk kerusakan mangrove (bakau) dan terumbu karang.
2. Toksiologi Lingkungan (Ekotoksiologi)
Habitat di
alam kita tampaknya tidak terbatas dan kapasitas penyerapan limbah sangat
besar. Dalam tahun-tahun ini dirasakan bahwa lingkungan kita memiliki
batas-batas terhadap limbah. Pencemaran yang terjadi karena persenyawaan dari
berbagai zat yang dihasilkan manuisa menyebabkan perubahan yang buruk terhadap
keadaan fisik, kimia, dan biologis dan estetis serta berdampak pada komponen
biotik lainnya. Dengan demikian sifat-sifat kimiawi dan mekanisme yang mengatur
bentuk dan penyebaran komponen ekosistem merupakan hal yang penting.
Ekotoksiologi
pencemar dianggap
sebagai suatu rentetan interaksi dan pengaruh yang diatur oleh sifat-sifat
kimia dan fisik. Pencemar yang dilepaskan ke lingkungan dapat mengalami
hamburan fisik di atmosfir, air, atau tanah dan sedimen yang bergantung pada
sifat-sifat fisika-kimianya. Ekotoksiologi merupakan ilmu cabang kimia
yang membahas mengenai sifat, kerja dan hubungannya antara bahan-bahan tiksik,
sera pendeteksian dan perawatan terhadap keracunan lingkungan atau ekosistem.
Perlunya pemahaman dampak terhadap eksploitasi ekosistem ini perlu peninjauan
terhdap dampak penyakit atau racun yang dapat berakibat pada lingkungan dan
biota.
Mempelajari
dampak terhadap eksploitasi ekosistem ini, perlu mengetahui berbagai macam
perilaku kimia yang berlangsung pada sistem ekologi. Berikut pembahasan
mengenai perilaku kimia zat pencemar dan perubahan ekosistem yang terjadi yang
disebabkan oleh adanya sifat kimia atau racun dari suatu zat pencemar.

3. Zat-zat yang
melakukan Deoksigenasi
Deoksigenasi
merupakan pengeyahan atau penghilangan molekul oksigen dari suatu zat, dalam
hal ini adalah tubuh air. Perlu diketahui bahwa transformasi karbon melibatkan
oksigen. Oksigen diperlukan untuk pernafasan aerabik khususnya oksigen yang
terlarut dalam massa air. Oksigen biasanya berasal dari atmosfer dan diubah ke
dalam karbon dioksida yang dibuang kedalam massa air dan akhirknya ke atmosfer.
Pernafasan meningkat menyebabkan meningkatnya jumlah karbon organik di dalam
air, dan menyebabkan pula berkurangnya sumber oksigen. Limbah yang kaya akan
karbon organik pada umumnya dibuang ke dalam tubuh air dalam bentuk kotoran
atau limbah.
Pernapasan
anaerob dengan zat organik yang mengandung nitrogen dan belerang menyebabkan
meningkatnya hidrgogen sulfida dan amonia di dalam tubuh air. Amonia dengan
adanya oksigen dioksidasi menjadi nitrit. Nitrit dibentuk dalam keadaan reduksi
dan oksidasi. Pembentukan nitrit dari bahan organik diperikan sebagai reaksi
nitrifikasi. Proses nitrifikasi ini dilakukan oleh berbagai macam jasad renik.
2O2 + NH4+
® NO3- + 2H+ + H2O
Proses ini
membuat sesuatu kebutuhan yang penting terhadap oksigen terurai dalam badan
air, khususnya penguraian pencemar kotoran organik.
Keseimbangan
oksigen di dalam
massa air sangat ditentukan 3 faktor utama, yakni :
1) Pengaerasian kembali, melarutnya oksigen
atmosfer pada permukaan air;
2) proses fotosintesa di dalam air; dan
3) penambahan oksigen ke dalam badan air
melalui buangan anak sungai.
Berkurangnya
pasokan oksigen
didalam air disebabkan karena : 1) pernapasan aerob, dimana kegiatan mahkluk
hidup yang ada di dalam tubuh air, baik jasad renik, tanaman, ikan, dan mahluk
hidup yang besar membutuhkan oksigen. 2). Ekspor, dimana buangan air yang
mengadung oksigen terlarut, dan 3) Deaerasi, terjadi jika kejenuhan sudah
melebihi 100% terdapat oksigen terlarut (DO/ Dissolved Oxygen) yang
hilang dari massa air.
Kepekatan
oksigen terlarut yang lebih rendah di dalam massa air menyebabkan pengambilan
oksigen yang rendah oleh makhluk hidup, akibatnya otot-otot tidak cukup diberi
oksigen untuk melanjutkan pernafasan aerob pada laju optimal. Penurunan oksigen
terlarut dalam jumlah sedang menurunkan kegiatan fisiologis makhluk hidup air.
Sebagai contoh pada ikan, penggunaan makanan, pertumbuhan, dan kecepatan
berenang semua menurun pada saat kepekatan oksigen terlarut kurang dari 8 – 10
mg/L (Welch, 1980 ). Aspek lain yang penting dari tanggapan makhluk hidup
terhadap penurunan oksigen terlarut adalah perbedaan kebutuhan terhadap oksigen
pada tahap kehidupan yang berbeda dari makhluk hidup air.
4. Pengkayaan unsur
hara atau eutrofikasi
Eutrofikasi
adalah pengkayaan unsur hara tanaman pada daerah perairan merupakan suatu
proses yang penting dalam pencemaran air dan aspek yang sangat nyata. Proses eutrofikasi
ini dapat ditinjau sebagai suatu rangkaian proses dari sebuah danau yang bersih
menjadi berlumpur oleh pengkayaan unsur hara tanaman dan meningkatnya
pertumbuhan tanaman air. Dalam proses uetrofikasi alamiah, dtrius tanaman,
garam-garam, pasir, dan sebagainya dari daerah aliran amsuk dalam aliran air
disimpan dalam badan air selama waktu geologis. Ini menyebabkan pengkayaan
unsur hara, sedimentasi, pengisian dan peningkatan biomassa.
Kegiatan
manusia sangat mempengaruhi pengkayaan unsur hara dan eutrofikasi, semisal : limbah
bungan rumahtangga, aliran dari bak penampungan kotoran, limbah industri,
aliran perkotaan, aliran dari pertanian, dan pengelolaan hutan. Kenaikan
populasi tanaman dapat menyebabkan penueurnan kandungan oksigen yang telarut
dalam air karena atanaman ada yang mati dan terjadi pembusukan oleh jasad
renik.
Secara
ilmiah perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengkayaan unsur hara dan
eutrofikasi dapat menyebabkan :
1.
Perubahan dalam metabolisme komunitas
Adanya peningkatan unsur hara dalam air
menjadikan deoksigenasi, sehingga menyebabkan kurangnya pasokan oksigen di
dalam air, sehingga proses metabolisme makhluk hidup di dalam air terganggu.
2.
Perubahan populasi dan komunitas dengan pengkayaan unsur hara.
Keadaan fisik-kimiawi berubah sesuai dengan
perubahan keadaan tropik dan merangsang perubahan dalam komposisi biologis.
Dengan adanya eutrofikasi ini menyebabkan dominansi ganggang hijau, diatome,
ganggan biru tumbuh dengan subur.

"Kotoran Hewan Peternakan di buang di danau yang dangkal"
(Photo Courtesy of US EPA)
5. Pestisida
Pestisida
alamiah seperti debu derris, sulfur, nikotin, dan piretrin, telah digunakan
dalam jangka waktu yang lama, namun kurang berhasil. Dengan adanya pestisida
bahan kimia sintetis telah memberikan keuntungn yang cuup besar dibandingkan
produk-produk alamiah. Penggunaan bahan kimia pestisida inicukup efektif untuk
mengatur hama, seperti : serangga, jamur, cacing, tikus, dan sebagainya.
Dampak
lingkungan penggunaan pestisida berkaitan dengan sifat mendasar yang penting
terhadap efektifitas pestisidanya. Pertama pestisida cukup beracun untuk
mempengaruhi kelompok taksonomi biota, termasuk maklhuk hidup yang bukan
sasarannya. Kedua banyak pestisida tahan terhadap degradasi lingkungan, dalam
arti sifatnya kuat untuk berbagai kondisi daerah. Sifat ini mengakibatkan
pengaruh jangka panjang dalam ekosistem alamiah.
Dampak
pestisida terhadap lingkungan sebagai akibat eksplotasi ekosistem dalam jangka
pendek dan panjang dapat dijabarkan sebagai berikut :
a.
Pengurangan populasi yang disebabkan oeleh pengaruh toksik langsung, peracunan
sekunder, dan penghilangan lakhluk mangsa.
b.
Kenaikan dalam populasi yang disebabkan oleh resurgence hama, kenaikan dalam
species bukan sasaran, dan pergantian suatu species dengan species yang lain.
Resurgence adalah penghilangan musuh dari rantai makanan.
c.
Pengaruh sub letal terhadap keselamatan dan perkembangbiakan hewan. Pengaruh sub-letal
fisiologis dan perilaku terhadap hewan dapat mempengaruhi keselamatan dan
perkembangbiakan dalam populasi dan komunitas. Pengaruh sub letal ini
menyebabkan : a) akumulasi dosis subletal dan pergerakan letal insektisida yang
tersimpan dalam lemak; b) pergeseran daslam hubungan mangsa-pemangsa dan
keselamatan secara turunan, dan c) perubahan keberhasilan dalam
perkembangbiakan.
d.
Perubahan dalam viabilitas dan ketahanan keturunan. Perkembangan ketahanan
terhadap toksisitas pestisida dalam populasi hewan timbul karena keselamatan
individu secar turun temurun di dalam suatu populasi yang terkna kontak sebagai
suatu hasil dari keragaman genetik.
6. Minyak bumi dan
Hidrokarbon yang berkaitan
Hidrokarbon
minyak bumi adalah pencemar utama di lautan dan dilepaskan di atmosfer dalam
jumlah cukup banyak, khususnya daerah yang berdekatn dengan perkotaan dan
industri. Pengolahan minyak bumi mencakup serangkaian hilangnya bahan-bahan dan
perubahan kimia dengan akibat terjadinya buangan ke dalam kompartemen ekosfer
yang berbeda. Minyuak bumi dipindahkan ke lingkungan dalam bentuk hidrokarbon
yang meliputi 2,3 % produksi global minyak bumi. Bila hidrokarbon dilepaskan
melalui pembakaran tidak sempurna, atau terbentuk selama proses pembakaran,
maka emisi antropogenik hidrokarbon non metana dapat berjumlah 68.106 ton per
tahun.
Alkana
dalam minyak bumi memperlihatkan toksisitas atau dampak buruk fisiologis yang
cukup kecil. Pengaruh ini biasanya disebabkan oleh zat-zat aromatik. Senyawa
ini umumnya merupakan komponen yang mudah larut didalam air. Hidrokarbon poli
aromatis (PAH) yang larut adalah beracun terhadap makhluk hidup perairan dalam
kepekatan 0,1 sampai 0,5 ppm.
Pentingnya
perhatian pada pengaruh atau dampak eksplorasi minyak bumi dan penggunaan
hidrokarbon daslam jangka panjang dapat menyebabkan antara lain :
1. bioakumulasi hidrokarbon dalam jaringan
tubuh dan kemungkinan pembentuk rasa yang aneh daslam jaringan yang dimasuki,
semisal perpindahan hidrokarbon aromatik melalui perbatasan darah otak dalam
hewan bertulangbelakang.
2. perubahan perilaku, semisal persepsi dalam
beberapa species.
3. rangsanganmetabolik : pengurangan daslam
pertumbuhan.
4. pengurangan keberhasilan perkembangbiakan
dlambeberapa species.
5. kematian diatara bentuk larva dan bayi
yang peka.
Tanggapan
ekosistem perairan terhadap kontak minyak bumi dapat dibedakan dua kategori
yakni :
1. kontak akut, dimana suksesi berbalik paling tidak satu
tingkat. Misalnya dalam kasus tumpahan minyak, perubahan suksesi karena
komunitas laut dpat lebih menonjol, khususnya di daerah dengan angka kematian
yang tinggi.
2. Kontak kronis dimana modifikasi terhadap struktur
komunitas terjadi. Misalnya kepekatan rendah bahan bakar minyak menyebabkan
pengurangan jumlah total hewan makro, khususnya pemakan suspensi.
7. Radionuklida
Penggunaan
energi nuklir antara lain : persenjataan, dan untuk pembangkit tenaga listrik.
Energi kimia dihasilkan dari pemisahan unsur-unsur beratom besar menjadi baian
yang lebih kecil dengan menghasilkan energi dan hasil reaksi penggabungan
(fusi) unsur-unsur yang ringan untuk emnghaislkan unsur yang lebih berat dengan
menghasilkan energi yang besar.
Pemasukan
radioaktif ke dalam lingkungan disebarkan secara homogen (merata).berupa gas inerts
dan cukup larut dalam kepekatan yang rendah dan cepat tertimbun oleh sedimen
disekitar pembuangan. Selain itu organisme air menyebabkan mutasi yang
menyebabkan makhluk hidup abnormal dan matinya organisme dan vegetasi.

8. Senyawa Organik
Sintetik
Senyawa
organik sentetik yang menjadi perhatian adalah Bifenil Terklorinasi ganda
atau sering disebut sebagai PCB. PCB merupakan klorinasi progresif
dengan kandungan unsur klor sebagai penyusun utama. Masuknya PCB yang utama ke
dalam lingkungan dihasilkan dari penguapan selama pembakaran, bocoran,
pembuangan cairan industri, dan buangan dalam timbunan dan urugan tanah. Sifat
PCB mirip dengan insektisida organoklor. Sifat umum lainnya adalah larut dalam
air, daya menguap yang rendah, dan tahan terhadap pemutusan kimiawi dan biologi
(tetapi dapat dihancurkan pada suhu lebih 800oC). Karena sifat ini
PCB sering ditambahkan ke dalam bahan platik untuk menahan api dan menambah
"waktu hidup" barang.
Pengaruh
ekologis penggunaan PCB dan pembuangannya memiliki korelasi dengan tingkatan
tropik dalam ekosistem perairan. Burung dan hewan memiliki kepekatan PCB yang
tinggi. Ini menyebabkan kontak maklhuk hidup pada tingkatan tropik yang tinggi
terhadap kepekatan zat-zat tersebut. Kepekatan ini menyebabkan kurang berhasilnya
pengembangan keturunan. Sebagai contoh dampak residu PCB mengakibatkan
burung-burung laut banyak yang mati.
Senyara
organik sintetis yang tidak kalah memberikan dampak kepada ekosistem adalah TCDD
( tetraklorodibenso – p – dioksin) atau lebih dikenal Dioxin. Ini banyak sekali
ditambahkan dalam produk-produk kimia komersial. Pembuangan Dioxin ini dapat
mengakibatkan kematian satwa dan juga mempengaruhi kesehatan manusia. Dioxin
memiliki kerutan air yang sangat rendah, tetapi cucian dari tanah dapat menghasilkan
kepekatan rendah dalam tubuh air, dan menyebabkan bioakumulasi dalam makhluk
hidup. Sumber utama dioxin dalam lingkungan alamiah terjadi sebagai hasil
pemakaian herbisida dalam pertanian dan dalam konsentrasi yang sama lebih kuat
dibanding insektisida.

C. Etika Lingkungan
Bagaimanapun manusia tidak dapat mencegah sepenuhnya terjadinya polusi
dan penurunan kualitas lingkungan, tetapi manusia dapat mengusahakan agar bumi
menjadi tempat tinggal yang lebih baik
untuk masa sekarang dan masa depan. Kita harus menyadari bahwa bumi ini adalah
titipan anak cucu kita. Sebagai titipan maka tidak selayaknya kita gunakan semena-mena sehingga tiba
giliran diminta oleh penitip jangan sampai hilang atau rusak.
Untuk hal tersebut diperlukan manusia-manusia yang sadar lingkungan (mandarling).
Apakah yang dimaksud mandarling? Manusia sadar lingkungan adalah manusia yang sudah memahami dan
menerapkan prinsip-prinsip ekologi dan etika lingkungan dalam menghadapi masalah dan dari perbuatan
yang berkaitan dengan lingkungan.
Apakah yang dimaksud dengan etika lingkungan? Etika mempunyai arti yang
ada hubungan dengan perbuatan yang benar dan yang salah. Etika bersifat
objektif dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kepentingan atau golongan. Yang
dimaksud dengan etika lingkungan adalah
kebiijaksanaan moral manusia dalam pergaulannya dengan lingkungan. Etika
lingkungan menyangkut hubungan dengan
perbuatan manusia dengan lingkungan yang
meliputi perbuatan benar dan salah.
Secara sederhana perubahan sikap manusia terhadap lingkungannya adalah
sebagai berikut:
1).
Manusia dikuasai lingkungan, pada masa ini pola
hidup manusia ditentukan oleh lingkungannya. Segala gejala alam seperti hujan,
perubahan iklim, api, angin, dan lain-lain belum dikenal manusia. Pada saai itu
hidup manusia terserah pada alam saja.
2).
Manusia memanfaatkan isi alam,bentuk interaksi ini
berkembang semenjak berkembangnya anggapan bahwa alam lingkungan ini adalah
anugerah Tuhan kepada manusia. Oleh sebab itu perlu diolah,digunakan dan
dikelola bagi kesejahteraan umat manusia.
Saat inilah manusia mulai mengadakan penelitian dan mengembangkan teknologi.
3).
Manusia menguasai lingkungan, etika manusia seperti
ini berkembang semenjak berkembangnya ilmu dan teknologi. Dengan teknologi
manusia memperoleh berbagai kemudahan eksplorasi lingkungan. Manusia mulai
berusaha melepaskan ketergantungan pada alam. Manusia menganggap bukan bagian dari alam, tetapi penguasa alam.
Mereka mengambil, memanfaatkan, mengatur, dan mengolah lingkungan alam sesuai dengan kehendaknya. Etika manusia
yang menguasai alam lingkungan mempunyai
sikap yang sangat membahayakan kelestarian lingkungan.
4).
Manusia hidup dalam hubungan keselarasan dengan
lingkungan.
Untuk menjadikan manusia hidup dalam keselarasan dengan lingkungan, perlu
diterapkan sikap etika keseimbangan lingkungan yang pada prinsipnya adalah
sebagai berikut :
1).
Manusia bukanlah sumber segala nilai. Manusia adalah bagian
dari lingkungan yang tidak
terpisahkan, dan bukan penguasa lingkungan. Manusia yang menyayangi dirinya,
menyayangi pula semua kehidupan dan lingkungan.
2).
Lingkungan
diciptakan untuk semua kehidupan, bukan hanya untuk manusia saja.
Manusia harus menjadi anggota
lingkungan yang benar dan jujur.
3).
Manusia harus menjadi penjaga dan pengurus
lingkungan yang bijaksana bagi generasi
sekarang dan yang akan datang.
4).
Sumber daya alam terbatas. Untuk itu harus dihemat,
diperbaharui, dan bukan diboroskan.
5).
Manusia sebagai bagian dari lingkungan harus bekerja sama dengan lingkungan.
Perbuatan manusia benar manakala mempunyai sumbangan terhadap pelestarian,
kestabilan, serta keseimbangan lingkungan.
6).
Hubungan manusia dengan lingkungan saling menguntungkan, didasarkan pada
pengertian dan kerja sama ekologi.
7).
Manusia senatiasai mengawetkan kestabilan dan
mutu kehidupan dengan mendorong keanekaragaman
fisik, biologi, dan budaya.
8).
Fungsi utama manusia dalam menjaga keseimbangan
adalah mengawasi perencanaan jangka panjang dan mencegah kelompok tertentu mengeksploitasi dan merusak lingkungan.
9).
Negara mempunyai peranan utkmencegah terjadinya eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Pembicaraan mengenai etika lingkungan
di atas akan lebih baik lagi jika
dapat kamu lakukan selain sebagai individu juga dapat dilaksanakan bersama di
sekolah, organisasi, dan masyarakat. Jika kamu akan memimpin karya wisata
cobalah susun tindakan-tindakan apa yang harus dipatuhi oleh peserta wisata agar tidak terjadi
polusi, kebakaran, kerusakan flora,
fauna, erosi. Tidak merusak milik perorangan atau negara dan menghormati milik
orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar