Minggu, 15 November 2015

BAB IV EKSPLOITASI EKOSISTEM DAN DAMPAKNYA



BAB IV
EKSPLOITASI EKOSISTEM DAN DAMPAKNYA

Standar Kompetensi  : Memahami komponen ekosistem serta peranan manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan AMDAL
Kompetensi Dasar :  Menjelaskan konsep keseimbangan lingkungan

A.  Eksploitasi Ekosistem
Kita pernah membahas kerusakan lingkungan  karena asa mata rantai jaring makanan dalam ekosistem yang terputus. Dalam masa pembanguan mau-tidak mau lahan-lahan tertentu seperti sawah, dan rawa-rawa dibangun menjadi daerah pemukiman, atau pabrik-pabrik yang lebih bermanfaat, tetapi secara tidak langsung terjadi gangguan alam. Banyak hewan-hewan rawa seperti burung dan ikan akan musnah. Demikian juga pengolahan tanah pertanian yang kurang baik akan menyebabkan erosi, dan kekurangan zat hara. Tanah tersebut akan mnejadi kritis. Salah satu ciri tanah kritis ialah banyak ditumbuhi alang-alang dan tidak subur. Ada lagi perlakuan yang menyebabkan keseimbangan alam terganggu yaitu dapat terjadi di daerah sabana. Apabila di padang rumput terlalu banyak ternak yang makanrumput padang rumput akan menjadi gundul dan akan terjadi erosi, dan tanahnya akan menjadi sangat gersang. Di Afrika proses itu  menyebabkan terjadinya perluasan gurun pasir. Yang lainnya, misalnya penggundulan hutan, pencemaran organik maupun bahan-bahan industri.
Dibandingkan komoponen biotik lainnya, manusia merupakan komonen biotik yang mempunyai pengaruh terkuat di biosfer bumi ini. Dengan kemampuannya untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, manusia mempunyai pengaruh yang amat besar, baik pengaruh yang memusnahkan ekosistem maupun pengaruh yang sifatnya meningkatkan, melipatkan dan mendistribusikan komponen biotik lainnya.
Kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan, kemampuan mengubah lingkungan  sesuai dengan yang diinginkan, menyebabkan  populasi manusia meningkat sangat cepat. Akibatnya keseimbangan lingkungan  mulai goyah. Hal ini semakin diperparah oleh berbagai sikap manusia yang cenderung merusak lingkungan  seperti membakar hutan, memberantas hama dengan berbagai  bahan kimia dan mengubah berbagai ekosistem buatan seperti yang dinginkan manusia.
Pembabatan dan pembakaran hutan menyebabkan dampak yang tidak sedikit. Hewan buas di hutan yang lingkungannya rusak bermigrasi ke desa-desa,memangsa hewan ternak atau bahkan manusia. Gajah, babi hutan, dan herbivora lainnya susah hidup dihutan yang rusak, maka hewan-hewan ini bermigrasi ke perkampungan penduduk sekitar.
Serangga-serangga hutan hidup tenang dan damai tidak mengganggu kehidupan manusia. Pertumbuhan populasinya dikontrol oleh predator dan parasitoidnya, sehingga tidak pernah menimbulkan  goncangan pada ekosistem hutan. Karena lingkungan  terusik manusia, maka mereka bermigrasi ke daerah pertanian dan menyerang tanaman budidaya.  Untuk mengatasi serangan serangga, manusia tak mampu  menggunakan cara-cara tradisional, dan terpaksa menggunakan bahan kimia (insektisida). Penggunaan bahan kimia tidak hanya sekedar memberantas hama, tetapi juga predator dan parasitoid yang hidup di tubuh serangga. Bila ada seranga yang tidak mati,maka akan mampu berkembang biak dengan aman tanpa ganguan predatornya. Pada suatu saat  populasinya akan meningkat pesat dan mampu menyebabkan terjadinya wabah serangan serangga lagi.
Dengan perkembangan tehnologi yang begitu pesat dan terus berlanjut serta meningkatnya urbanisasi yang diakibatkan oleh pembangunan yang dilakukan oleh negara-negara berkembang dewasa ini. Kebutuhan terhadap perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup yang sehat dan aman perlu mendapat perhatian yang makin besar. Sehubungan dengan itu  maka pemanfaatan  sumkebr daya  alam secara bijaksana,peran manusia dalam pengolahan lingkungan  itu eprlu ditingkatkan. Di samping itu  konsep pembangunan berwawasan lingkungan  perlu terus diperkenalkan dan diterapkan pada semua lapisan masyarakat.
Pembangunan industri diharapkan dapat meningkatkan kesejateraan bagi masyarakat. Namun bila dalam perumusan kebijakasanaan pembangunan industri tidak memasukkan unsur-unsur pertimbangan yang berorientasi padalingkungan, maka tiga unsur pokok dalam ekosistem, yaitu : udara, air dan tanah akan mengalami penurunan kualitas yang substansial sebagai akibat pencemaran oleh bahan sisa buangan atau limbah.
Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menyatakan bahwa pembangunan industri adalah bagian dari pembangunan nasional jangka panjang yang diharapkan dapat menghasilkan perekonomian yang berdasarkan industri yang kuat dan ditopang oleh pertanian yang tangguh. Secara keseluruhan pertumbuhan industri yang dicapai rata-rata pertahun sebesar 12,98 % (menurut Data Statistik Ekonomi 2006). Dalam situasi yang menunjukkan pertumbuhan yang nyata dari kegiatan industri, dapat dimengerti kalau tekanan terhadap lingkungan menjadi semakin besar.
Kegiatan industri yang makin berkembang akan menimbulkan jumlah dan macam limbah industri yang akan dibuang ke lingkungan menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yangserius. Masalah yang ditimbulkan oleh pencermaran limbah industri menjadi makin kompleks. Penanggulanannya yang efektif memerlukan sistem manajemen atau pengelolaan limbah industri yang tepat. Pertanyaan yang memasalahkan tentang zat-zat pencemar apa yang harus dipisahkan dan sampai seberapa jauh pemisahannya harus dilakukan untuk melindungi lingkungan, perlu dijawab khusus untuk setiap kasus pencemaran atau dampak dari eksploitasi ekosistem tersebut. Pemecahannya tidak sederhana,karena diperlukan analisis kebutuhan dan kondisi setempat yang disertai dengan langkah penerapan ilmu pengetahuan dan tehnologi, penetapan keputusan tehnis yang berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh dan pertimbangan untuk memenuhi peraturan yang bersifat lokal atau nasional.

B.  Dampak Eksploitasi Ekosistem
Ada dua dampak negatif yang pasti terjadi terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam (komponen ekosistem) yaitu: 1).  Polusi dan  kerusakan lingkungan, 2). Perubahan lingkungan dengan berbagai dampaknya. Polusi dan kerusakan lingkungan  telah kita bahas pada tingkat II. Berikut ini akan disampaikan dampak eksploitasi sumber daya alam yang lebih spesifik.

1. Limbah.
Sisa buangan atau limbah industri sebagai hasil samping dari eksplotasi ekosistem dapat berupa gas, debu, cairan, atau padatan. Sisa buangan cair yang dikeluarkan oleh proses-proses dalam industri sering disebut sebagai air limbah industri. Limbah cair industri ini berbeda-beda dalam jumlah maupun kekuatan pencemaranya, sesuai dengan satuan operasi atau proses yang merupakan sumbernya.
Pembuangan air limbah industri biasanya dilakukan ke lingkungan perairan, namun bila air penerima limbah dilampui daya tampung dan daya pemurniannya, dapat berakibat timbulnya berbagai masalah pencemaran lingkungan. Limbah sebenarnya tidak hanya dari industri tetapi juga dari rumah tangga, pelayanan umum ( seperti : rumah sakit, perkantoran, pertokoan, dan sebagainya), dari aktifitas pertanian, transportasi dan lain-lain.
Limbah limbah ini juga dapat menimbulkan pencemaran di udara, tanah dan pada perairan. Pencemaran dari limbah permukiman maupun dari lahan pertanian di Indonesia cukup potensial. Tidak kalah pentingnya potensinya dibanding pencemaran dari industri. Pencemaran pada prinsipnya dapat diartikan sebagai penambahan atau masuknya zat bahan atau energi ke lingkungan dalam jumlah sedemikian, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kemunduran atau bahaya bagi kesehatan manusia, terganggunya kehidupan, terganggunya ekosistem dan rusaknya sumberdaya dalam suatu ekosistem.
Berdasarkan hasi penelitian terhadap DAS (Daerah Aliran Sungai ) di pulau Jawa sejak PELITA III dan IV, tampak adanya penurunan kualitas air dari tahun-ke tahun sebagai akibat terbebannya sungai oleh berbagai limbah terutama limbah rumah tangga dan industri. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa beberapa DAS di pulau Jawa seperti DAS Ciliwung, Cisadane, Bengawan Solo, Brantas, Citanduy, Citarum, Kami Garang telah tercemari oleh lmbah domestik yang ditandai tingginya kandungan N, P, BOD dan bakteri Coli,sp oleh sungai dan rendahnya kandungan DO tertama di bagian hilir sungai. Tidak hanya oleh limbah kimiawi tetapi juga limbah fisik berupa substansi yang tersuspensi semisal endapan lumpur dan sampah polimer. Hal tersebut diatas menyebabkan semakin merosotnya mutu air pada perairan bebas di Indonesia dan khususnya Pulau Jawa sebagai akibat penggundulan hutan dan penggunaan tataguna lahan yang tidak berimbang terhadap lingkungan. Penggunaan tata guna lahan yang tidak proporsional terhadap luas resapan juga mengakibatkan limpasan dalam jumlah yang besar dan pada akhirnya daerah hilir akan menerima akibat dari rusaknya lingkungan daerah hulu. Dampak pencemaran atau eksploitasi ekosistem baik darat atau ekosistem air tawar tidak hanya menurunkan kualitas air dan perairan di daratan saja, tetapi juga menimpulkan dampak berkelanjutan hingga ke pesisir dan lautan, termasuk kerusakan mangrove (bakau) dan terumbu karang.

2.  Toksiologi Lingkungan (Ekotoksiologi)
Habitat di alam kita tampaknya tidak terbatas dan kapasitas penyerapan limbah sangat besar. Dalam tahun-tahun ini dirasakan bahwa lingkungan kita memiliki batas-batas terhadap limbah. Pencemaran yang terjadi karena persenyawaan dari berbagai zat yang dihasilkan manuisa menyebabkan perubahan yang buruk terhadap keadaan fisik, kimia, dan biologis dan estetis serta berdampak pada komponen biotik lainnya. Dengan demikian sifat-sifat kimiawi dan mekanisme yang mengatur bentuk dan penyebaran komponen ekosistem merupakan hal yang penting.
Ekotoksiologi pencemar dianggap sebagai suatu rentetan interaksi dan pengaruh yang diatur oleh sifat-sifat kimia dan fisik. Pencemar yang dilepaskan ke lingkungan dapat mengalami hamburan fisik di atmosfir, air, atau tanah dan sedimen yang bergantung pada sifat-sifat fisika-kimianya. Ekotoksiologi merupakan ilmu cabang kimia yang membahas mengenai sifat, kerja dan hubungannya antara bahan-bahan tiksik, sera pendeteksian dan perawatan terhadap keracunan lingkungan atau ekosistem. Perlunya pemahaman dampak terhadap eksploitasi ekosistem ini perlu peninjauan terhdap dampak penyakit atau racun yang dapat berakibat pada lingkungan dan biota.
Mempelajari dampak terhadap eksploitasi ekosistem ini, perlu mengetahui berbagai macam perilaku kimia yang berlangsung pada sistem ekologi. Berikut pembahasan mengenai perilaku kimia zat pencemar dan perubahan ekosistem yang terjadi yang disebabkan oleh adanya sifat kimia atau racun dari suatu zat pencemar.
Text Box: Sekilas info
Ekologi dan Lingkungan
Memelihara hewan demi dagingnya mempunyai resiko yang menyebabkan kerusakan hutan tropis, naiknya panas bumi, pemborosan sumber energi, dan kelaparan dunia. Penggunaan tanah, air dan energi untuk menghasilkan daging bukanlah cara yang efisien.
Sejak 1960, sekitar 25% dari hutan tropis (rain forest) di Amerika Latin telah dibakar dan dileyapkan untuk menciptakan lahan peternakan sapi. Dipekirakan bahwa setiap empat ons ham burger yang berasal dari sapi di hutan tropis memusnakan 55 kaki persegi dari hutan di negara tropis. Disamping itu, memelihara sapi adalah penyebab utama terciptanya tiga macam gas yang menyebabkan peningkatan panas bumi, penyebab utama polusi air, dan memerlukan jumplah air yang luar biasa yaitu 2.464 gallon untuk memproduksi setiap poun daging sapi. Hanya diperlukan 29 gallon air untuk menghasilkan satu poun tomat, dan 139 galon air untuk menghasilkan satu poun roti gandum. Hampir separuh penggunakan air di Amerika Serikat dipakai untuk mehasilkan pakan sapi dan ternak lainya.
Bertambah banyak orang yang mendapat makanan jika sumber daya yang digunakan untuk peternakan sapi dimanfaatkan untuk menghasilkan gandum sebagai makanan penduduk dunia. Satu acre tanah yang ditanami gandum akan menghasilkan protein sebanyak delapan kali lipat dan kalori sebanyak dua puluh lima kali lipat, jika gandum itu dikonsumsi manusia daripada untuk sapi. Satu acre tanah digunakan untuk menanam brocoli menghasilkan sepuluh kali lipat protein, kalori dan niacin dari pada satu acre tanah yang digunakan untuk menghasilkan daging sapi.
Banyak data statistik semacam ini. Sumber daya alam akan digunakan lebih efisien jika tanah peternakan diubah menjadi lahan pertanian untuk menghasilkan makanan bagi manusia. Menjadi vegetarian mengijinkan anda "menelusuri planet ini dengan lebih ringan". Disamping mengambil yang diperlukan saja dan mengurangi kelebihan, anda akan merasa lebih baik ketika mengetahui bahwa tidak ada makhluk hidup yang harus kehilangan nyawanya setiap kali anda menikmati hidangan.
3. Zat-zat yang melakukan Deoksigenasi
Deoksigenasi merupakan pengeyahan atau penghilangan molekul oksigen dari suatu zat, dalam hal ini adalah tubuh air. Perlu diketahui bahwa transformasi karbon melibatkan oksigen. Oksigen diperlukan untuk pernafasan aerabik khususnya oksigen yang terlarut dalam massa air. Oksigen biasanya berasal dari atmosfer dan diubah ke dalam karbon dioksida yang dibuang kedalam massa air dan akhirknya ke atmosfer. Pernafasan meningkat menyebabkan meningkatnya jumlah karbon organik di dalam air, dan menyebabkan pula berkurangnya sumber oksigen. Limbah yang kaya akan karbon organik pada umumnya dibuang ke dalam tubuh air dalam bentuk kotoran atau limbah.
Pernapasan anaerob dengan zat organik yang mengandung nitrogen dan belerang menyebabkan meningkatnya hidrgogen sulfida dan amonia di dalam tubuh air. Amonia dengan adanya oksigen dioksidasi menjadi nitrit. Nitrit dibentuk dalam keadaan reduksi dan oksidasi. Pembentukan nitrit dari bahan organik diperikan sebagai reaksi nitrifikasi. Proses nitrifikasi ini dilakukan oleh berbagai macam jasad renik.
2O2 + NH4+ ® NO3- + 2H+ + H2O
Proses ini membuat sesuatu kebutuhan yang penting terhadap oksigen terurai dalam badan air, khususnya penguraian pencemar kotoran organik.
Keseimbangan oksigen di dalam massa air sangat ditentukan 3 faktor utama, yakni :
1) Pengaerasian kembali, melarutnya oksigen atmosfer pada permukaan air;
2) proses fotosintesa di dalam air; dan
3) penambahan oksigen ke dalam badan air melalui buangan anak sungai.
Berkurangnya pasokan oksigen didalam air disebabkan karena : 1) pernapasan aerob, dimana kegiatan mahkluk hidup yang ada di dalam tubuh air, baik jasad renik, tanaman, ikan, dan mahluk hidup yang besar membutuhkan oksigen. 2). Ekspor, dimana buangan air yang mengadung oksigen terlarut, dan 3) Deaerasi, terjadi jika kejenuhan sudah melebihi 100% terdapat oksigen terlarut (DO/ Dissolved Oxygen) yang hilang dari massa air.
Kepekatan oksigen terlarut yang lebih rendah di dalam massa air menyebabkan pengambilan oksigen yang rendah oleh makhluk hidup, akibatnya otot-otot tidak cukup diberi oksigen untuk melanjutkan pernafasan aerob pada laju optimal. Penurunan oksigen terlarut dalam jumlah sedang menurunkan kegiatan fisiologis makhluk hidup air. Sebagai contoh pada ikan, penggunaan makanan, pertumbuhan, dan kecepatan berenang semua menurun pada saat kepekatan oksigen terlarut kurang dari 8 – 10 mg/L (Welch, 1980 ). Aspek lain yang penting dari tanggapan makhluk hidup terhadap penurunan oksigen terlarut adalah perbedaan kebutuhan terhadap oksigen pada tahap kehidupan yang berbeda dari makhluk hidup air.

4. Pengkayaan unsur hara atau eutrofikasi
Eutrofikasi adalah pengkayaan unsur hara tanaman pada daerah perairan merupakan suatu proses yang penting dalam pencemaran air dan aspek yang sangat nyata. Proses eutrofikasi ini dapat ditinjau sebagai suatu rangkaian proses dari sebuah danau yang bersih menjadi berlumpur oleh pengkayaan unsur hara tanaman dan meningkatnya pertumbuhan tanaman air. Dalam proses uetrofikasi alamiah, dtrius tanaman, garam-garam, pasir, dan sebagainya dari daerah aliran amsuk dalam aliran air disimpan dalam badan air selama waktu geologis. Ini menyebabkan pengkayaan unsur hara, sedimentasi, pengisian dan peningkatan biomassa.
Kegiatan manusia sangat mempengaruhi pengkayaan unsur hara dan eutrofikasi, semisal : limbah bungan rumahtangga, aliran dari bak penampungan kotoran, limbah industri, aliran perkotaan, aliran dari pertanian, dan pengelolaan hutan. Kenaikan populasi tanaman dapat menyebabkan penueurnan kandungan oksigen yang telarut dalam air karena atanaman ada yang mati dan terjadi pembusukan oleh jasad renik.
Secara ilmiah perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengkayaan unsur hara dan eutrofikasi dapat menyebabkan :
1. Perubahan dalam metabolisme komunitas
Adanya peningkatan unsur hara dalam air menjadikan deoksigenasi, sehingga menyebabkan kurangnya pasokan oksigen di dalam air, sehingga proses metabolisme makhluk hidup di dalam air terganggu.
2. Perubahan populasi dan komunitas dengan pengkayaan unsur hara.
Keadaan fisik-kimiawi berubah sesuai dengan perubahan keadaan tropik dan merangsang perubahan dalam komposisi biologis. Dengan adanya eutrofikasi ini menyebabkan dominansi ganggang hijau, diatome, ganggan biru tumbuh dengan subur.


"Kotoran Hewan Peternakan di buang di danau yang dangkal"
(Photo Courtesy of US EPA)

5. Pestisida
Pestisida alamiah seperti debu derris, sulfur, nikotin, dan piretrin, telah digunakan dalam jangka waktu yang lama, namun kurang berhasil. Dengan adanya pestisida bahan kimia sintetis telah memberikan keuntungn yang cuup besar dibandingkan produk-produk alamiah. Penggunaan bahan kimia pestisida inicukup efektif untuk mengatur hama, seperti : serangga, jamur, cacing, tikus, dan sebagainya.
Dampak lingkungan penggunaan pestisida berkaitan dengan sifat mendasar yang penting terhadap efektifitas pestisidanya. Pertama pestisida cukup beracun untuk mempengaruhi kelompok taksonomi biota, termasuk maklhuk hidup yang bukan sasarannya. Kedua banyak pestisida tahan terhadap degradasi lingkungan, dalam arti sifatnya kuat untuk berbagai kondisi daerah. Sifat ini mengakibatkan pengaruh jangka panjang dalam ekosistem alamiah.
Dampak pestisida terhadap lingkungan sebagai akibat eksplotasi ekosistem dalam jangka pendek dan panjang dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Pengurangan populasi yang disebabkan oeleh pengaruh toksik langsung, peracunan sekunder, dan penghilangan lakhluk mangsa.
b. Kenaikan dalam populasi yang disebabkan oleh resurgence hama, kenaikan dalam species bukan sasaran, dan pergantian suatu species dengan species yang lain. Resurgence adalah penghilangan musuh dari rantai makanan.
c. Pengaruh sub letal terhadap keselamatan dan perkembangbiakan hewan. Pengaruh sub-letal fisiologis dan perilaku terhadap hewan dapat mempengaruhi keselamatan dan perkembangbiakan dalam populasi dan komunitas. Pengaruh sub letal ini menyebabkan : a) akumulasi dosis subletal dan pergerakan letal insektisida yang tersimpan dalam lemak; b) pergeseran daslam hubungan mangsa-pemangsa dan keselamatan secara turunan, dan c) perubahan keberhasilan dalam perkembangbiakan.
d. Perubahan dalam viabilitas dan ketahanan keturunan. Perkembangan ketahanan terhadap toksisitas pestisida dalam populasi hewan timbul karena keselamatan individu secar turun temurun di dalam suatu populasi yang terkna kontak sebagai suatu hasil dari keragaman genetik.

6. Minyak bumi dan Hidrokarbon yang berkaitan
Hidrokarbon minyak bumi adalah pencemar utama di lautan dan dilepaskan di atmosfer dalam jumlah cukup banyak, khususnya daerah yang berdekatn dengan perkotaan dan industri. Pengolahan minyak bumi mencakup serangkaian hilangnya bahan-bahan dan perubahan kimia dengan akibat terjadinya buangan ke dalam kompartemen ekosfer yang berbeda. Minyuak bumi dipindahkan ke lingkungan dalam bentuk hidrokarbon yang meliputi 2,3 % produksi global minyak bumi. Bila hidrokarbon dilepaskan melalui pembakaran tidak sempurna, atau terbentuk selama proses pembakaran, maka emisi antropogenik hidrokarbon non metana dapat berjumlah 68.106 ton per tahun.
Alkana dalam minyak bumi memperlihatkan toksisitas atau dampak buruk fisiologis yang cukup kecil. Pengaruh ini biasanya disebabkan oleh zat-zat aromatik. Senyawa ini umumnya merupakan komponen yang mudah larut didalam air. Hidrokarbon poli aromatis (PAH) yang larut adalah beracun terhadap makhluk hidup perairan dalam kepekatan 0,1 sampai 0,5 ppm.
Pentingnya perhatian pada pengaruh atau dampak eksplorasi minyak bumi dan penggunaan hidrokarbon daslam jangka panjang dapat menyebabkan antara lain :
1. bioakumulasi hidrokarbon dalam jaringan tubuh dan kemungkinan pembentuk rasa yang aneh daslam jaringan yang dimasuki, semisal perpindahan hidrokarbon aromatik melalui perbatasan darah otak dalam hewan bertulangbelakang.
2. perubahan perilaku, semisal persepsi dalam beberapa species.
3. rangsanganmetabolik : pengurangan daslam pertumbuhan.
4. pengurangan keberhasilan perkembangbiakan dlambeberapa species.
5. kematian diatara bentuk larva dan bayi yang peka.
Tanggapan ekosistem perairan terhadap kontak minyak bumi dapat dibedakan dua kategori yakni :
1. kontak akut, dimana suksesi berbalik paling tidak satu tingkat. Misalnya dalam kasus tumpahan minyak, perubahan suksesi karena komunitas laut dpat lebih menonjol, khususnya di daerah dengan angka kematian yang tinggi.
2. Kontak kronis dimana modifikasi terhadap struktur komunitas terjadi. Misalnya kepekatan rendah bahan bakar minyak menyebabkan pengurangan jumlah total hewan makro, khususnya pemakan suspensi.

7. Radionuklida
Penggunaan energi nuklir antara lain : persenjataan, dan untuk pembangkit tenaga listrik. Energi kimia dihasilkan dari pemisahan unsur-unsur beratom besar menjadi baian yang lebih kecil dengan menghasilkan energi dan hasil reaksi penggabungan (fusi) unsur-unsur yang ringan untuk emnghaislkan unsur yang lebih berat dengan menghasilkan energi yang besar.
Pemasukan radioaktif ke dalam lingkungan disebarkan secara homogen (merata).berupa gas inerts dan cukup larut dalam kepekatan yang rendah dan cepat tertimbun oleh sedimen disekitar pembuangan. Selain itu organisme air menyebabkan mutasi yang menyebabkan makhluk hidup abnormal dan matinya organisme dan vegetasi.

Text Box: Sekilas Info 
SERANGGA DAN LINGKUNGAN
Kurang lebih 1 juta spesies serangga telah dideskripsi (dikenal dalam ilmu pengetahuan), dan hal ini merupakan  petunjuk bahwa serangga merupakan mahluk hidup yang mendominasi bumi. Diperkirakan, masih ada sekitar 10 juta spesies serangga yang belum dideskripsi. Peranan serangga sangat besar dalam menguraikan bahan-bahan tanaman dan binatang dalam rantai makanan ekosistem dan sebagai bahan makanan mahluk hidup lain. Serangga memiliki kemampuan luar biasa dalam beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang ekstrem, seperti di padang pasir dan  Antarktika.
Walaupun ukuran badan serangga relatif kecil dibandingkan dengan vertebrata, kuantitasnya yang demikian besar menyebabkan serangga sangat berperan dalam biodiversity (keanekaragaman bentuk hidup) dan dalam siklus energi dalam suatu habitat. Ukuran tubuh serangga bervariasi dari mikroskopis (seperti Thysanoptera, berbagai macam kutu dll.) sampai yang besar seperti walang kayu, kupu-kupu gajah dsb. Dalam suatu habitat di hutan hujan tropika diperkirakan, dengan hanya memperhitungkan serangga sosial (jenis-jenis semut, lebah dan rayap), peranannya dalam siklus energi adalah 4 kali peranan jenis-jenis vertebrata. 
Satu-satunya ekosistem di mana serangga tidak lazim ditemukan adalah di samudera. Serangga juga memiliki keanekaragaman luar biasa dalam ukuran, bentuk dan perilaku. Kesuksesan eksistensi kehidupan serangga di bumi ini diduga berkaitan erat dengan rangka luar (eksoskeleton) yang dimilikinya, yaitu kulitnya yang juga merangkap sebagai rangka penunjang tubuhnya, dan ukurannya yang relatif kecil serta kemampuan terbang sebagian besar jenis serangga.  
Ukuran badannya yang relatif kecil menyebabkan kebutuhan makannya juga relatif sedikit dan lebih mudah memperoleh perlindungan terhadap serangan musuhnya. Serangga juga memiliki kemampuan bereproduksi lebih besar dalam waktu singkat, dan keragaman genetik yang lebih besar. Dengan kemampuannya untuk beradaptasi, menyebabkan banyak jenis serangga merupakan hama tanaman budidaya, yang mampu dengan cepat mengembangkan sifat resistensi terhadap insektisida.
Beberapa jenis serangga juga berguna bagi kehidupan manusia seperti lebah madu, ulat sutera, kutu lak, serangga penyerbuk, musuh alami hama atau serangga perusak tanaman, pemakan detritus dan sampah, dan bahkan sebagai makanan bagi mahluk lain, termasuk manusia. Tetapi sehari-hari kita mengenal serangga dari aspek merugikan kehidupan manusia karena banyak di antaranya menjadi hama perusak dan pemakan tanaman pertanian dan menjadi pembawa (vektor) bagi berbagai penyakit seperti malaria dan demam berdarah. Walaupun demikian sebenarnya serangga perusak hanya kurang dari 1 persen dari semua jenis serangga. Dengan mengenal serangga terutama biologi dan perilakunya maka diharapkan akan efisien manusia mengendalikan kehidupan serangga yang merugikan ini.
Keanekaragaman yang tinggi dalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan perilaku adaptasi dalam lingkungannya, dan demilkian banyaknya jenis serangga yang terdapat di muka bumi, menyebabkan  banyak kajian ilmu pengetahuan, baik yang murni maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model. Kajian dinamika populasi misalnya, bertumpu pada perkembangan populasi serangga. Demikian pula, pola, kajian ekologi, ekosistem dan habitat mengambil serangga sebagai model untuk mengembangkannya ke spesies-spesies lain dan dalam skala yang lebih besar. 
(Diambil dari tulisan Prof Ir Rudy C Tarumingkeng, PhD, IPB; www.ekologi.com)

.   
Kiri:  Hippodamia glacialis,  predator dari aphid (J.Ogrodnick)
Tengah: Cotesia congregata,  parasitoid pada ulat (K.Kester)
Kanan: Larva  Sphenoptera jugoslavica   pada akar tanaman knapweed  (R.Richard).
(Sumber:  http://www.nysaes.cornell.edu/ent/biocontrol/info/primer.html ).

8. Senyawa Organik Sintetik
Senyawa organik sentetik yang menjadi perhatian adalah Bifenil Terklorinasi ganda atau sering disebut sebagai PCB. PCB merupakan klorinasi progresif dengan kandungan unsur klor sebagai penyusun utama. Masuknya PCB yang utama ke dalam lingkungan dihasilkan dari penguapan selama pembakaran, bocoran, pembuangan cairan industri, dan buangan dalam timbunan dan urugan tanah. Sifat PCB mirip dengan insektisida organoklor. Sifat umum lainnya adalah larut dalam air, daya menguap yang rendah, dan tahan terhadap pemutusan kimiawi dan biologi (tetapi dapat dihancurkan pada suhu lebih 800oC). Karena sifat ini PCB sering ditambahkan ke dalam bahan platik untuk menahan api dan menambah "waktu hidup" barang.
Pengaruh ekologis penggunaan PCB dan pembuangannya memiliki korelasi dengan tingkatan tropik dalam ekosistem perairan. Burung dan hewan memiliki kepekatan PCB yang tinggi. Ini menyebabkan kontak maklhuk hidup pada tingkatan tropik yang tinggi terhadap kepekatan zat-zat tersebut. Kepekatan ini menyebabkan kurang berhasilnya pengembangan keturunan. Sebagai contoh dampak residu PCB mengakibatkan burung-burung laut banyak yang mati.
Senyara organik sintetis yang tidak kalah memberikan dampak kepada ekosistem adalah TCDD ( tetraklorodibenso – p – dioksin) atau lebih dikenal Dioxin. Ini banyak sekali ditambahkan dalam produk-produk kimia komersial. Pembuangan Dioxin ini dapat mengakibatkan kematian satwa dan juga mempengaruhi kesehatan manusia. Dioxin memiliki kerutan air yang sangat rendah, tetapi cucian dari tanah dapat menghasilkan kepekatan rendah dalam tubuh air, dan menyebabkan bioakumulasi dalam makhluk hidup. Sumber utama dioxin dalam lingkungan alamiah terjadi sebagai hasil pemakaian herbisida dalam pertanian dan dalam konsentrasi yang sama lebih kuat dibanding insektisida.

Text Box: Problem Solving
Pertengahan bulan Februari tahun 2007, wilayah Jakarta mendapat bencana banjir. Hampir 55% wilayah Jakarta tergenang oleh air bah. Meski permasalahan banjir telah menjadi langganan tiap tahun, tetapi banjir tahun 2007 adalah banjir yang paling besar karena dalam kurun waktu 25 tahun debit luapan yang terbesar terjadi di tahun 2007. Banjir di Jakarta boleh dikatakan sebagai banjir kiriman dari Bogor. Lalu apakah salah Bogor? Apakah permasalahan hanya karena banjir kiriman saja ?
Tentu banyak sekali alasan yang bisa menyimpulkan banjir Jakarta disebabkan apa? Jakarta memiliki 14 muara besar dengan banyak sungai yang melewati wilayah Jakarta. 
Secara geologis Jakarta merupakan daerah delta, yakni sebagai bentuk lahan yang dihasilkan dari endapan dari muara-muara sungai yang ada dan memiliki debit tinggi pada musim hujan. Secara fisik, hujan di wilayah Jakarta termasuk kategori yang intensitas tinggi karena dekat dengan laut. Permasalahan tata ruang kota yang sudah parah, baik meliputi pola pemukiman yang padat dan kumuh dan tidak ekologis, jaringan transportasi asal tembus, irigasi atau pengaliran air yang salah, dan keadaan fisik lainnya yang membuat Jakarta sulit untuk dibenahi secara fisik. Semakin diperparah dengan semakin kurangnya kapasitas sungai karena bangunan liar disekitar bantaran sungai, pembuangan sampah, dan pembangunan sarana fisik yang tidak mengindahkan daerah resapan.
Perlunya kebijakan yang mampu untuk membenahi permasalahan yang terjadi di Jakarta. Tidak hanya hal-hal fisik saja yang ada di Jakarta, tetapi juga penanganan tataruang dan pembinaan mengenai lingkungan hidup di daerah atas atau hulu. Penyelesaian banjir tentu tidak terlpas dari DAS (daerah Aliran Sungai) sebagai pokok kajian permasalah. Banjir kiriman Bogor disebabkan karena kurang pengawasan di dalam tataruang kota yang menyebabkan habisnya daerah resapan di daerah hulu. Kerjasama antara Jakarta dan Bogor dalam kebijakan pemerintahan perlu ditingkatkan lagi khususnya di dalam peningkatan sarana fisik dan pembenahan sarana fisik yang menjadi faktor banjir.
Berdasarkan analisa keruangan tersebut jelas Jakarta belum bisa terlepas dari banjir. Tetapi usaha perlu dilakukan agar Jakarta bebas dari banjir. Langkah-langkahnya antara lain yang bisa sedikit menyelesaikan banjir Jakarta :
1. pembuatan banjir kanal, semacam saluran tanpa hambatan untuk mengalirkan banjir kiriman dari daerah hulu.
2. pembenahan sepanjang saluran irigasi dan bantaran sungai, agar kapasitas aliran cukup memadai.
3. program tiap rumah atau wilayah membuat daerah resapan atau sumur resapan. 
4. pembenahan tataruang kota yang berdrainase, agar limpasan baik dari hujan atau dari aliran dari hulu dapat lamcar tanpa terganggu.
5. Penataan tataruang daerah hulu, khusunya menjaga luasan daerah resapan.

C. Etika Lingkungan
Bagaimanapun manusia tidak dapat mencegah sepenuhnya terjadinya polusi dan penurunan kualitas lingkungan, tetapi manusia dapat mengusahakan agar bumi menjadi tempat tinggal yang  lebih baik untuk masa sekarang dan masa depan. Kita harus menyadari bahwa bumi ini adalah titipan anak cucu kita. Sebagai titipan maka tidak selayaknya  kita gunakan semena-mena sehingga tiba giliran diminta oleh penitip jangan sampai hilang atau rusak.
Untuk hal tersebut diperlukan manusia-manusia yang sadar lingkungan (mandarling). Apakah yang dimaksud mandarling? Manusia sadar lingkungan  adalah manusia yang sudah memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ekologi dan etika lingkungan  dalam menghadapi masalah dan dari perbuatan yang berkaitan dengan lingkungan.
Apakah yang dimaksud dengan etika lingkungan? Etika mempunyai arti yang ada hubungan dengan perbuatan yang benar dan yang salah. Etika bersifat objektif dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kepentingan atau golongan. Yang dimaksud dengan etika lingkungan  adalah kebiijaksanaan moral manusia dalam pergaulannya dengan lingkungan. Etika lingkungan  menyangkut hubungan dengan perbuatan manusia dengan lingkungan  yang meliputi perbuatan benar dan salah.
Secara sederhana perubahan sikap manusia terhadap lingkungannya adalah sebagai berikut:
1).   Manusia dikuasai lingkungan, pada masa ini pola hidup manusia ditentukan oleh lingkungannya. Segala gejala alam seperti hujan, perubahan iklim, api, angin, dan lain-lain belum dikenal manusia. Pada saai itu hidup manusia terserah pada alam saja.
2).   Manusia memanfaatkan isi alam,bentuk interaksi ini berkembang semenjak berkembangnya anggapan bahwa alam lingkungan ini adalah anugerah Tuhan kepada manusia. Oleh sebab itu perlu diolah,digunakan dan dikelola bagi kesejahteraan umat manusia.  Saat inilah manusia mulai mengadakan penelitian dan mengembangkan  teknologi.
3).   Manusia menguasai lingkungan, etika manusia seperti ini berkembang semenjak berkembangnya ilmu dan teknologi. Dengan teknologi manusia memperoleh berbagai kemudahan eksplorasi lingkungan. Manusia mulai berusaha melepaskan ketergantungan pada alam. Manusia menganggap bukan  bagian dari alam, tetapi penguasa alam. Mereka mengambil, memanfaatkan, mengatur, dan mengolah lingkungan  alam sesuai dengan kehendaknya. Etika manusia yang menguasai alam lingkungan  mempunyai sikap yang sangat membahayakan kelestarian lingkungan.
4).   Manusia hidup dalam hubungan keselarasan dengan lingkungan.
Untuk menjadikan manusia hidup dalam keselarasan dengan lingkungan, perlu diterapkan sikap etika keseimbangan lingkungan yang pada prinsipnya adalah sebagai berikut :
1).   Manusia bukanlah sumber segala nilai. Manusia  adalah bagian  dari lingkungan  yang tidak terpisahkan, dan bukan penguasa lingkungan. Manusia yang menyayangi dirinya, menyayangi pula semua kehidupan dan lingkungan.
2).   Lingkungan  diciptakan untuk semua kehidupan, bukan hanya untuk manusia saja. Manusia harus menjadi anggota  lingkungan  yang benar dan jujur.
3).   Manusia harus menjadi penjaga dan pengurus lingkungan  yang bijaksana bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
4).   Sumber daya alam terbatas. Untuk itu harus dihemat, diperbaharui, dan bukan diboroskan.
5).   Manusia sebagai bagian dari lingkungan  harus bekerja sama dengan lingkungan. Perbuatan manusia benar manakala mempunyai sumbangan terhadap pelestarian, kestabilan, serta keseimbangan lingkungan.
6).   Hubungan manusia dengan lingkungan  saling menguntungkan, didasarkan pada pengertian dan kerja sama ekologi.
7).   Manusia senatiasai mengawetkan kestabilan dan mutu  kehidupan dengan mendorong keanekaragaman fisik, biologi, dan budaya.
8).   Fungsi utama manusia dalam menjaga keseimbangan adalah mengawasi perencanaan jangka panjang dan mencegah  kelompok tertentu mengeksploitasi  dan merusak lingkungan.
9).   Negara mempunyai peranan utkmencegah terjadinya eksploitasi  sumber daya alam secara berlebihan.
Pembicaraan mengenai etika lingkungan  di atas akan lebih baik  lagi jika dapat kamu lakukan selain sebagai individu juga dapat dilaksanakan bersama di sekolah, organisasi, dan masyarakat. Jika kamu akan memimpin karya wisata cobalah susun tindakan-tindakan apa yang harus dipatuhi oleh  peserta wisata agar tidak terjadi polusi,  kebakaran, kerusakan flora, fauna, erosi. Tidak merusak milik perorangan atau negara dan menghormati milik orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar